by

Media Sosial Kita, Baik atau Buruk

By. Syamsudin Kadir

Media sosial adalah ruang terbuka bagi banyak orang untuk mengisinya dengan banyak hal pula. Apalah lagi dalam kondisi aplikasi dan laman media sosial yang terus menjamur, semua orang seakan dipaksa untuk menjadi pengisi yang aktif dan bebas-merdeka.

Sebagai seorang muslim, kita tentu punya standar tertentu dalam bersikap atau menyikapi kondisi semacam itu. Walaupun peluangnya bisa positif sekaligus negatif. Satu sisi media sosial bisa kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat. Namun pada sisi lain kita bisa isi dengan hal-hal yang tak bermanfaat atau sia-sia.

Sebagai muslim kita tentu ingin sekali agar media sosial kita diisi dengan hal-hal yang bermutu dan bermanfaat. Dalam bermedia sosial, kita perlu memastikan bahwa kita mengisinya dengan hal-hal yang bermutu dan bermanfaat. Hal ini sebagai aksi ril seorang muslim yang beriman kepada Allah juga wujud ketaatan kepada Rasul-Nya.

Dalam al-Quran surah al-Mukminun ayat 3 Allah begitu jelas dan tegas menyebutkan bahwa di antara ciri Mukmin yang beruntung yaitu “Orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.”

Di antara ciri orang beriman, dinyatakan lagi dalam surah al-Qashash ayat 55, yaitu “Apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian. Kesejahteraan atas diri kalian. Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang bodoh’.”

Ternyata standar sekaligus garisan semacam itu tak hanya ada dalam al-Quran. Bahkan dalam banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberi rambu-rambu dan peringatan. Dalam sebuah haditsnya beliau bersabda, “Di antara kebaikan keislaman seseorang ialah dia meninggalkan sesuatu yang tiada bermanfaat baginya.” (HR. Tirmizi)

Belakangan ini, terutama di era media sosial yang semakin menjamur, kita seperti terlalu gatal dan latah untuk selalu mengambil bagian dalam mengisi media sosial. Naifnya, kita isu justru dengan hal-hal yang tak bermutu dan tak bermanfaat. Kita seakan terus tergoda untuk bermedia sosial dengan standar tak bermutu.

Kita kerap begitu puas dan bangga bila terlibat dalam kerumunan tak bermutu seperti debat kusir, caci maki, berita bohong atau hoax, bahkan fitnah memfitnah. Ada semacam kepuasan yang tak terkira bila ikut debat menang-menangan dan berbagi cacian. Bahkan tak sedikit yang berbangga diri manakala terlibat menebar berita bohong atau hoax dan fitnah memfitnah.

Insyaa Allah masih ada waktu untuk berbenah, karena itu mari membenah diri dari sekarang. Terutama pada momentum ramadhan 1441 H (2020) dan dalam suasana duka karena bencana non alam: Covid-19 yang sedang melanda berbagai negara di dunia termasuk negara kita Indonesia ini.

Mari evaluasi secara jujur, serius dan sungguh-sungguh atas diri kita dalam bermedia sosial. Jangan-jangan masih ada konten yang membuat kita tak layak mendapatkan kasih sayang, ridha dan berkah dari Allah. Bisa jadi kita masih terjebak dalam kubangan hal-hal tak bermanfaat alias sia-sia.

Selebihnya, mari isi media sosial kita dengan konten yang bermutu dan bermanfaat. Ya, pastikan semuanya terisi oleh hal-hal yang bermutu dan bermanfaat. Jangan komentari hal-hal yang memang tak perlu dikomentari. Atau jangan berkomentar sekadar ikutan ramai padahal kita tak memahami substansinya.

Lalu, sesekali mari memahami media sosial dari kerangka ajal kematian. Bisa jadi seketika atau lama lagi ajal kematian menjemput kita. Karena ajal datang tak pernah kasih kabar. Kalau mau atau datang, maka terjadilah. Walau pun kita boleh jadi belum mau.

Allah berfirman, “Tiap-tiap umat itu mempunyai waktu yang ditetapkan. Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. al-A’raf: 34)

Pada surat lain Allah mempertegas bahwa, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Intinya bahwa manusia sejatinya pasti mengalami kematian. Berapapun usianya dan apapun jenis kelaminnya serta apapun latar sosialnya, semuanya pasti mati.

Bayangkan bila kita meninggal dalam kondisi mewariskan hal-hal tak bermutu dan tak bermanfaat di akun media sosial kita. Atau bayangkan kita meninggal dalam kondisi tulisan di media sosial hanya sekadar ikutan ramai. Atau bahkan justru terisi oleh berbagai debat kusir, caci maki, berita bohong atau hoax, bahkan fitnah memfitnah.

Paling naif lagi manakala status atau tulisan di media sosial kita berisi ejekan, hinaan dan upaya merendahkan orang lain secara masal. Terlihat wah dan hebat memang, namun itu pada dasarnya membuat hati kita menjadi gersang dan kering kerontang. Bahkan jiwa kita seperti terjangkit virus berbahaya berupa iri, dengki dan berburuk sangka.

Coba sesekali berpikir dalam bingkai jangka panjang. Jadikan setiap detik dan kata-kata dalam media sosial kita punya arti dan bermanfaat. Hitung-hitung menanam benih amal kebaikan untuk menambah amal baik kita. Kalau tulisan kita bermanfaat, misalnya, bakal jadi amal jariyah. Kalau tak bermanfaat bakal jadi dosa jariyah juga.

Jadi, mari evaluasi diri kita. Mari evaluasi secara tuntas cara kita bermedia sosial. Mari cek konten atau tulisan di media sosial kita secara keseluruhan dari awal hingga sekarang. Hapus semua hal-hal yang tak perlu. Dari tulisan dan komentar hingga video dan foto-foto. Jangan ada lagi yang sia-sia. Mari kita isi dan penuhi semuanya dengan tulisan bermutu dan hal-hal yang bermanfaat! (*)

News Feed