by

Character Building “Milenial”

Asep-Nugraha
By. Asep Nugraha

Character Building – Jagat maya saat ini sedang dihebohkan kasus Youtuber anak muda yang membuat konten prank melecehkan orang lain dengan cara membagikan bingkisan berisi sampah. Dia berpikir konten prank nya bisa menaikan subscriber channel YouTube nya tanpa pikir panjang efek negatif dari kontennya. Akhirnya kontennya betulan jadi viral namun berefek negatif dan kasusnya jadi masalah hukum.

Apa yang salah dari kreatifitas si anak muda Youtuber tersebut ?

Degradasi karakter sekarang menjadi persoalan serius di kalangan generasi muda. Pesatnya teknologi internet berdampak terhadap berlimpahnya informasi. Bahkan bisa dikatakan terjadi tsunami informasi. Segala macam informasi bercampur aduk antara yang bermanfaat, merusak, penting, dan tidak penting. Informasi begitu mudahnya diakses di ujung telunjuk. Karakter menjadi faktor penting pada saat mengakses limpahan informasi ini, membawa manfaat atau mudharat (distorsi/kerusakan).

Apa itu Character Building atau pendidikan karakter ?

Definisi normatif menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Character Building atau pendidikan karakter merupakan proses pendidikan yang memiliki dimensi olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olahraga.
Olah hati bermakna etik individu yang memiliki kerohanian yang mendalam, beriman, dan bertaqwa. Olah pikir bermakna literasi individu yang memiliki keunggulan akademis sebagai hasil pembelajaran dan pembelajar sepanjang hayat. Olah rasa bermakna estetik individu yang memiliki integritas moral, rasa berkesenian dan berkebudayaan. Olahraga bermakna kinestetik individu yang sehat dan mampu berpartisipasi aktif sebagai warga negara.

Presiden Jokowi dalam pidato perdananya sebagai presiden 2019-2024, menyampaikan pembangunan sumber daya manusia unggul menjadi prioritas dalam pemerintahan lima tahun ke depan. Pasalnya, untuk membangun bangsa, dibutuhkan juga SDM yang berkualitas.

Sejalan dengan amanah pemerintah, Nadiem Makarim sebagai Mendikbud pertama dari kalangan generasi milenial memiliki lima visi dan misi pendidikan nasional yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan.

Pertama, pendidikan karakter.
Kedua, aspek deregulasi dan debirokratisasi.
Ketiga, aspek peningkatan investasi dan inovasi.
Keempat, aspek penciptaan lapangan kerja.
Kelima, aspek pemberdayaan teknologi.

Terkait dengan visi pertama, pendidikan karakter, menurut Nadiem jika SDM tidak memiliki karakter yang kuat maka akan dengan mudah tergerus informasi yang tidak benar. Menurutnya juga banyak perusahaan skala kecil, menengah, dan besar mengeluhkan kurangnya profesionalisme dalam diri anak muda Indonesia. Sikapnya nampak kurang hormat kepada atasan, bawahan, atau rekan kerja. Sehingga berdampak juga kepada kemampuan kerja yang dimiliki. Nadiem berpendapat pendidikan karakter sangat penting mendorong kultur profesional di Indonesia. Program pendidikan karakter yang akan digagas Kemdikbud adalah menerjemahkan konten pendidikan karakter menjadi konten yang lebih mudah dipahami oleh generasi milenial. Menurutnya pendidikan karakter tidak cukup hanya dengan membaca buku tapi harus diaktualisasikan di aksi nyata agar bisa memahami apa itu moralitas, dan apa itu civil society. Pemahaman karakter harus diperoleh dari contoh nyata bukan filosofis.

Visi pendidikan karakter yang digariskan pemerintah seyogyanya menjadi visi kita bersama juga untuk membangun pendidikan karakter pribadi, keluarga, dan lingkungan terdekat. Tantangan generasi ke depan akan semakin berat seiring dengan derasnya informasi yang dipicu pesatnya perkembangan teknologi informasi. Kepemimpinan di masa generasi mendatang sangat ditentukan dengan pendidikan karakter yang ditanamkan saat ini. Kuat atau lemahnya kualitas SDM akan mempengaruhi daya saing kemajuan bangsa.

Dalam Islam pendidikan karakter menjadi pondasi penting yang harus diajarkan dan diamalkan oleh setiap diri dan umat sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits nabi.

Pertama, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah yang baik-baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna hadits ini melatih kemampuan menjaga dan mengontrol lisan

Kedua, “Di antara kebaikan Islam seseorang, ia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya’ (HR Tirmidzi)

Makna hadits ini melatih kemampuan meninggalkan hal-hal berlebihan yang tidak bermanfaat.

Ketiga, “Jangan marah, jangan marah” (HR. Bukhori)

Makna hadits ini melatih kemampuan mengendalikan diri dan jiwa

Keempat, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari dan Muslim)

Makna hadits ini melatih kemampuan toleransi dan berlapang dada

Pendidikan karakter menjadi fundamental penting pendidikan generasi selanjutnya. Semoga bangsa ini menjadi maju karena ditopang oleh sumber daya manusia unggul yang berkarakter.

News Feed