by

Kerupuk Melarat yang Kian ‘Melarat’

Perdananews Cirebon — Di masa Pandemi Covid-19 nasib memprihatinkan dialami para pembuat kerupuk melarat, dimana harga bahan baku pembuatan kerupuk tersebut mengalami kenaikan dan sulit ditemukan diantaranya tepung tapioka dan garam ditambah sepinya penjualan.

Kerupuk Melarat, salah satu jajanan khas Cirebon.

Kerupuk warna warni yang banyak dijumpai di Cirebon ini disebut-sebut beroleh embel-embel ‘melarat’ karena proses pengolahannya yang memanfaatkan pasir sungai atau akrab dikenal pasir lanang.

Pemanfaatan pasir sungai tentu berbeda dengan pengolahan menggunakan bahan lain, seperti halnya minyak goreng.

Pasir yang digunakan untuk menyangrai adonan kerupuk pun melalui proses pengolahan sebelumnya. Pasir pertama kali direndam dalam air selama sekitar 3 hari.

Selama itu, pasir diayak dan dipilah dari batu-batu besar maupun kotoran lain yang mengganggu. Pasir hasil ayakan itulah yang kemudian digunakan untuk menyangrai.

Dalam proses pengolahan kerupuk, pemanfaatan pasir memakan waktu lama dibanding minyak goreng.

Tanpa masa kedaluwarsa, pasir hanya akan berkurang karena berjatuhan selama proses menyangrai. Meski proses pengolahan hingga hasil produksinya bernilai murah, selama ini pasaran kerupuk melarat nyatanya meriah.

Tak hanya di wilayah Cirebon, kerupuk ini pun beredar ke daerah lain di Jawa Barat maupun Jawa Tengah. Sayang, pasca Covid-19 mewabah, melorotnya dialami para pelaku usahanya.

Kendati demikian, di masa sulit ini, prinsip makan tak makan asal kumpul menjadi penguat kerupuk melarat untuk bertahan. Produksi Melorot Eli Marliyah (61) sesekali mengecek potongan kerupuk melarat mentah yang terbungkus dalam karung plastik di teras rumah.

News Feed