by

Kerupuk Melarat yang Kian ‘Melarat’

Kondisi itu terjadi di tengah wabah Covid-19. Penyakit menular yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu menyebabkan jumlah pelanggannya jauh berkurang. Akibatnya, dia pun harus mengurangi jumlah produksi.

Sebelum Covid-19 mewabah, Eli bisa memproduksi 3 kuintal kerupuk mentah.

“Sekarang (di tengah pandemi) sih setengahnya,” ujar ibu beranak 3 ini.

Pengurangan produksi praktis membuatnya mengurangi pula jumlah hari kerja bagi karyawannya. Dari 6 hari kerja pada Senin sampai Sabtu, kini produksi hanya dilakukan 3 hari saja sejak Senin hingga Rabu.

Kondisi itu telah berjalan selama sekitar 6 bulan terakhir. Dampak terparah dialami Eli pada bulan Ramadhan lalu ketika sekitar 2 ton kerupuk melarat hasil produksinya menumpuk akibat tak tersalurkan.

Biasanya, ramadhan menjadi waktu di mana dirinya mremaan (meraup untung). Untuk bulan puasa, produksinya dimulai sebelum Ramadhan datang.

“Biasanya bulan puasa kerupuk ini banyak dipesan. Setelah covid, malah numpuk 2 ton karena enggak keluar (tak ada yang beli/pesan),” keluhnya.

Penurunan produksi dilakukan pula Sholahudin Al Ayubi (28), produsen kerupuk ini mentah di desa yang sama dengan Eli. Selain Sholahudin yang akrab disapa Ola, sang kakak, Muhamad Saefullah juga menggeluti usaha nyaris serupa dengan produksi kerupuk melarat matang bermerk “Sumber Mares”.

Sebelum covid, produksi yang mentah bisa 2 kuintal, tapi setelah covid turun jadi hanya 1 kuintal,” ujar Ola.

Mewakili sang kakak, dia menjelaskan pula penurunan produksi dialami kerupuk matang. Saat ini, produksi kerupuk melarat matang hanya sepekan sekali dari sebelumnya setiap hari, dengan volume 2,5 kuintal untuk sekali produksi.

Meski sama-sama mengalami penurunan produksi, pengaruh Covid-19 terhadap kerupuk melarat mentah tak sebesar kerupuk melarat matang.

Ola yang merupakan generasi ke-3 dalam usaha yang dirintis sang kakek sejak 1987 itu menyebut, produksi mentahan hanya terpengaruh 40%-50%. Lain halnya dengan produksi matang yang bisa mencapai 80%.

“Untuk mentahan tidak sedrastis matang karena pasar konsumen mentahan kebanyakan lokal, seperti penjual rujak kangkung atau rujak asem yang barangnya bisa dibeli di pasar-pasar tradisional,” bebernya.

Sementara, produksi matang tergantung pada iklim pariwisata, di mana sejak Covid-19 mewabah sektor ini telah terpukul keras.

Pembatasan aktivitas wisata membuat kerupuk melarat matang kehilangan pasar. Kerupuk melarat Sumber Mares sendiri dipasarkan ke luar Cirebon, seperti Cikampek, Subang, Sumedang, Bandung, hingga Brebes, Jawa Tengah.

Tingkat kunjungan wisatawan yang anjlok di mana-mana membuat pengiriman kerupuk Sumber Mares pun menurun.

“Dulu pengiriman keluar kota setiap hari. Saat PSBB (pembatasan sosial berskala besar), enggak ada kiriman sama sekali dan sekarang (saat fase adaptasi kebiasaan baru/AKB) cuma 3 kali seminggu,” paparnya.

Sekalipun menghadapi kesulitan, kerupuk melarat produksi kakak beradik ini berharga tetap. Untuk kerupuk melarat mentah, Ola menjual Rp13.000/kg. Sementara, harga kerupuk melarat matang tergantung pada varian rasa.

Untuk original dengan rasa manis gurih dijual Rp4.000/bungkus (sebungkus berisi sekitar 5 ons), pedas Rp5.000/bungkus, dan serundeng Rp5.500/bungkus. Di Blok Wareng, Desa Setu Kulon, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, pasangan suami istri Amid (60) dan Tati (50), pemilik usaha kerupuk melarat merk ‘Jaya’ juga terpaksa menurunkan produksinya.

News Feed