by

Kerupuk Melarat yang Kian ‘Melarat’

Kios kerupuk ‘Jaya’ yang menempel pada bangunan utama belakangan tak seramai dulu. Linier dengan sepinya pabrik pengolahan kerupuk yang berada di bagian belakang rumah.

“Dulu produksi 6 hari, kios juga ramai dengan pembeli dari mana-mana yang biasanya cari oleh-oleh. Sekarang, produksi cuma 3 hari karena kios juga sepi,” tutur Amid yang menuruni usaha dari sang nenek pada sekitar 1990.

Sebelum pandemi, pabriknya memproduksi 1 kuintal kerupuk ini mentah per hari. Dari jumlah itu, 30 kg di antaranya disangrai sebagai produk matang.

Lebaran pun menjadi masa mremaan hingga produksinya naik 3-4 kali lipat. Setelah pandemi, jumlah produksi turun drastis hanya menjadi 5 kg saja setiap harinya.

Baik penjualan kerupuk mentah maupun matang turun sekitar 70%. Di masa New Normal pun, mereka menilai penjualan belum membaik karena kecemasan atas Covid-19 masih menyelimuti kebanyakan warga, termasuk wisatawan dari luar kota.

.

News Feed