by

PKS Salah Baca Gelora, Rakyat Salah Baca PKS

PERDANANEWS CIREBON — PKS salah baca, Partai Gelora Indonesia yang diremehkan oleh pimpinan dan kader PKS ternyata membuktikan bukan partai kaleng-kaleng, bukan partai barisan sakit hati dan juga bukan partai kemarin sore.

Memang umur partai belum setahun, tapi pada Pilkada 2020 ini Partai Gelora Indonesia berpartisipasi di 161 daerah yaitu 9 provinsi, 126 kabupaten dan 26 kota. Sebagai partai politik Partai Gelora Indonesia mendapatkan penerimaan di elit politik daerah. Walaupun di beberapa daerah Partai Gelora dihadang oleh PKS untuk masuk koalisi tapi kelihaian komunikasi dan negosiasi politik dari fungsionaris Partai Gelora susah dibendung.

Goreng-menggoreng issue dukungan Gelora di Solo dan Medan oleh buzzers PKS semakin menjadi, tapi semalem Fahri dikasih panggung gratis sama Bang Karni utk menjelaskan semua konsideran Gelora, mantab….

Pembelahan kecebong dan kampret yang berkepanjangan memang menguntungkan PKS, pembelahan ini akan berdampak elektoral ke PKS, faksi kampret di mapping PKS akan menjadi ceruk suara sampai 2024.

Makanya terminologi kecebong-kampret akan selalu menjadi terminologi buzzers PKS, karena ini bagian dari strategi pemenangan PKS. Nah labelisasi “kecebong” kepada Gelora dalam konteks Pilkada Solo dan Medan adalah strategi menggiring agar suara faksi kampret tidak masuk ke Gelora.

Pernyataan Fahri bahwa bangsa harus bersatu dan tidak ada lagi kecebong dan kampret, atau pernyataan tidak ada satu atau dua, yang ada adalah 3 yaitu Persatuan Indonesia merupakan pernyataan kelas negarawan.

Pernyataan ini adalah pernyataan motivasi untuk bangsa dalam menghadapi krisis karena covid-19, tidak ada kecebong-kampret untuk membawa Indonesia keluar dari krisis.

Jika buzzer PKS masih melihat setiap pilihan politik dalam perspektif Kecebong dan Kampret, maka para buzzer ini menjadi sumber yang melanggengkan perpecahan rakyat akar rumput. Dan pilihan politik PKS sebagai oposisi akhirnya hanyalah sekedar strategi PKS untuk mendulang suara elektoral, bukan untuk rakyat, mungkin PKS terinspirasi oleh PDIP yang bisa mendapatkan efek elektoral selama menjadi oposisi dalam periode kepemimpinan SBY.

Jadi rakyat jangan salah baca, oposisi tidak selamanya untuk rakyat, oposisi cuma bagian strategi menang pemilu, toh yang selama ini ngaku oposisi taringnya juga udah tumpul….

By. Rudy Ahmad

News Feed