by

Kezhaliman Menjadikan Orang yang Dizhalimi Sebagai Pahlawan

PERDANANEWS CIREBON — “Kezhaliman hanya akan menjadikan orang yang dizhalimi sebagai pahlawan. Adapun kejahatan, hanya akan membuat hati si pelaku dihantui rasa takut, walau ia berusaha menampakkan keangkuhan.” (Syaikh Mujahid Omar Mukhtar)

Pertunjukan kezhaliman dipertontonkan, baik di skala kecil, organisasi, parpol, hingga level negara. Kezhaliman diawali revolusi mental, raibnya rasa malu, lalu berakhir pada kepuasan melihat orang, kelompok yang tidak sejalan tersiksa, terpinggirkan, bahkan hingga terbunuh sekalipun.

Jika sekelas Fir’aun saja masih memiliki rasa iba atas kehadiran bayi lelaki di istananya, kezhaliman era kontemporer, mengalahkan kezhaliman Fir’aun. Bedanya Fir’aun tegas mengatakan, “Aku adalah Rabb kalian teragung.”

Fir’aun modern lebih berani mengolok-olok Tuhan. Bagaimana tidak, ia masih mau mendatangi masjid, shalat, memperingati hari besar agama-agama. Tapi kemudian membuat prank, bersilat lidah, tak henti-hentinya menipu masyarakat.

Itulah AsSisi, Fir’aun kekinian yang banyak menginspirasi dunia. Trump menyebut AsSisi sebagai ‘Favorite Dictator’. Berkat AsSisi, suara Islam Politik diposisikan teroris. Lalu suara akal sehat dipandang kriminal. Sementara negara dikangkangi koruptor yang beraliansi dengan polisi dan militer.

Tidak ada HAM, demokrasi, atau apapun yang menguntungkan kalangan Islam sebagai agama mayoritas di Mesir. Setiap kali AsSisi melengapkan nyawa, maka ia akan berdalih atas nama memerangi terorisme. Lalu ia menakuti Barat, bahwa biang terorisme itu dari masjid dan organisasi keIslaman.

News Feed